Dear Mas Conor McGregor, sesekali coba ikut Pesantren.

images (60).jpg

Setelah Timnas muda sepakbola Indonesia yang sudah bermain goks kemarin harus kalah saat memasuki menit-menit lelah sampai ubun-ubun di semifinal melawan Malaysia . Di hari berikutnya, secara beruntun saya dan penggemar MMA lainnya harus merasakan double nyesek, walaupun untuk yang kedua ini ngga nyesek amat sih. Om Floyd Mayweather berhasil menumbangkan Mas Conor McGregor di ronde ke 10.

Saya dan pasti banyak fans lainnya yang ngga buta amat sedari jauh hari menganggap itu sebuah hiburan bukan pertandingan. Bagi mereka berdua adalah cari nafkah tapi bagi kami cuma lucu-lucuan aja.

 

Jadi gini lho, Mas Conor. Di dalam octagon, sampeyan adalah atlit professional yang berhasil menjadi juara dengan cara grappling, kimura, maupun tehnik stand-ground lainnya  mampu mengalahkan banyak atlit MMA berkelas dan umumnya tidak butuh habis ronde penuh, Abang Jose Aldo salah satu korban KO dalam waktu 13 detik. Pun, Mas tercatat mampu memegang 2 gelar dalam waktu yang sama. Hebring!

 

Tapi, di dalam ring sampeyan cuma boleh pakai pukulan, terlebih masih amatir. Lha wong baru pertama tanding ya ndak pantas bilang professional. Meskipun lawan Mas adalah salah satu petinju juara dunia yang berumur 40 tahun tapi jelas secara pengalaman, mental, apalagi skill berbeda sangat jauh. Alhasil, di pertandingan tersebut betapa jelas hantaman pukulan yang sebenarnya bisa membuat KO dengan cepat meski kenyataannya Mas bisa bertahan hingga ronde ke 10. Itu hebat lho, butuh fisik, strategi, juga konsentrasi bertahan seperti itu. Mereka yang cuma bisa komentar tapi belum pernah merasakan 1 menit serasa 1 jam, ho’oh-in aja.

Saya pun paham kalau beladiri pada dasarnya adalah tentang seni pertahanan diri, minimal untuk kesehatan kalau tidak digunakan pada moment khusus di sebuah pertandingan atau tarung jalanan. Dan untuk seorang penikmat beladiri wajib bertarung dengan siapapun untuk menjaga fisik terlebih meningkatkan kemampuan. Tapi mbok ya jangan salah target. Toh semisal Mas menang kemarin paling cuma dicap menang lawan orang tua. Ya walaupun dapat duit juga sih.

 

Nah, disini letak kesalahannya. Terserah pertarungan kemarin soal bisnis kek, cari masalah kek. Caranya jelas salah, Mas. Saya suka persona sampeyan yang banyak omong tapi banyak bukti dengan tantang siapapun di dalam circle MMA. Tapi saya ya ga suka kalau sampeyan kemana-mana. Cukup diam disitu bisa kan. Bukan soal jago kandang. Mas boleh bilang masakan seorang Chef ga enak tapi kalau tanding masak professional ya nanti dulu. Nah kayak gitu kira-kira.

 

Saya kok merasa yakin kalau Mas ini sebenarnya keturunan orang Indonesia. Lha wong asal babat bubut tanpa kenali bobot, bedanya Mas gentle hadapin langsung one by one ketimbang ngumpet dibalik keyboard, itu juga keroyokan modal tagline ‘viralkan’.

Oleh karena itu sebagai seorang fans saya menyarankan Mas Conor coba sesekali ikut pesantren biar ga kebablasan. Nanti sebelum belajar fiqh, sorof, dan hal-hal rumit lainnya. Mas harus khatam Akhlaqul Lilbanin dan Ta’lim Muta’alim terlebih dahulu. Ini gampang dimengerti tapi susah dilakukan terlebih dengan spesies manusia sekarang, soal adab. Jangan dianggap sepele, di dalamnya ada strategi juga kok, yaitu menghormati. Nah kalau Mas Conor ini ndak mau menghormati lawan asal tantang dan menghormati diri tahu batasan, saya sebagai fans ya bakal kecewa.

Juga, Mas bisa ketemu banyak santri yang bisa dan dengan waktu tertentu jadi lawan atau teman cengngengesan.

Dengan itu semua nanti mas paham kapan menyerang kapan bodomat.

 

Kalau begitu terus dan ngga ma laayudraku kulluhu, la yutraku kulluhu nanti saya bikin petisi buat naturalisasi sampeyan, lho.

 

Sekian, Mas. Saya mau jemur emping dulu.

 

Ciao

Advertisements

Sehat itu Industri

images (59)

 

Setelah bungkus rokok dibuat tampak menyeramkan yang sekilas lebih cocok jadi efek samping menelan batu akik, hingga badan dunia terlegalisir sekelas Human Rights Watch pun serta membabi buta melakukan kampanye anti rokok menyasar ke petani. Saking semangatnya, kita bisa berterima kasih kepada mereka sebagai contoh kalau organisasi sebesar itu bebas mengeluarkan data analisa child labour, yang ngawur.

Sebelum saya lanjut, ini bukan soal situ mengkonsumsi rokok atau ngga, urusan sampeyan. Jadi ngga perlu sewot.

 

Pun saya sepenuhnya idem dengan berbagai macam tehnik pembatasan konsumsi rokok. Ketimbang hanya lantunan ‘uang kok dibakar’

Seperti kehadiran smoking area. Setidaknya itu bisa meminimalisir rasa sesak di dalam angkutan umum, cukup dengan bermacam jenis aroma keringat hingga barang bawaan. Tapi merokok di dalam angkutan umum? Itu jahanam.

Atau jikalau berkendaraan, khususnya para pengendara roda dua tanpa pernah paham rasanya bara beterbangan dan menempel di bola mata, yang mungkin saja mereka sedang memaknai menjadi seorang ghost rider.

 

Tapi bagaimana dengan Kemenkes. HRW boleh gagal, Kemenkes jangan. Lha wong masih serakyat kok, dukung.

Dengan dalih asap rokok itu menjadi aib bagi yang tidak merokok lalu bisa serampangan juga menampilkan iklan yang isinya batuk dahak berdarah dan segala tampilan pesakitan tanpa kenal waktu dan target. Sebisa mungkin pemirsa layar kaca muak, jijik, jika memungkinkan muntah saat iklan tersebut sering tampil saat  jam keluarga kumpul maupun makan. Darah dibalas darah.

Sebuah strategi yang mumpuni. Toh kita memang di dunia nyata dan maya yang dibiasakan dengan kengerian.

 

Lalu dimana letak empati? Persetan dengan itu semua karena terpenting sekarang industri rokok lenyap termasuk para konsumennya. Lupakan kesehatan jiwa para penontonnya, kita semua perlu dididik berdarah dingin kesampingkan moral dan adab lainnya saat sedari kecil dicecoki itu semua. Alihkan pandangan jika kita mempunyai anak kecil lebih baik merayakan ulang tahun di restoran junk food, hingga dewasa nanti sudah tidak kaget dengan kasus jantung iskemik yang notabene penyumbang terbesar penyakit di negara ini.

 

hal-hal tersebut itu tidak boleh diperdebatkan lagi dan dilebih-lebihkan. Karena pada dasarnya semua sumber penyakit berasal dari rokok.

Pads akhirnya, cukuplah menjadikan tagline hidup sehat untuk kantong sehat industri farmasi.

Contohnya?

Bukankah obat-obat mereka juga sama laku terjual tanpa informasi? Ingat dong, kasus (pura-pura) tidak tahu mengoleksi obat 30 butir kemudian jadi perdebatan kaum muda masa kini tanpa pernah mau tahu.

Duh dek, itu Nitrazepam atau pas jaman Om disebut, Nipam.

Ciao

 

Pada suatu hari

Ada banyak pertanda dimana usia tidak lagi berkuasa atas hidupmu. Selain kelenturan kulit, rambut berkarat, hingga pembiaran waktu berlalu semaunya. Sudah cukup dengan itu semua. Entahlah, tapi saya tentu saja iya. Dulu, saya punya banyak waktu dengan semua omong kosong. Sekarang, mungkin hanya tersisa sedikit. Kalaupun saya bilang tidak ada lagi omong kosong justru itu sesungguhnya omong kosong yang sebenarnya. Bagaimana?
Salah satunya dengan blog ini dan beberapa akun sosial media yang saya punya. I’m done, dudes. I’m fucking done. Tepatnya saya tidak butuh informasi-halah-kayak-orang-bener yang selalu ada setiap saya scrolling timeline. Pengecualian mungkin, dengan “akun yang menghasilkan” karena jelas ada uang disana. Diluar itu? I don’t give a shit, really brads I meant to. Saya lakukan apa yang BENAR-BENAR saya ingin lakukan, yes I’m back. Saya rasa ini penting.

Contoh kecil, yaitu disini. Sudah 2 tahun saya membiarkan dengan isi konten yang saya sendiri jijik. Apa yang saya pikirkan saat itu? Lucu, seru, kembali lagi itu semua pada selera. Menyesal? Tidak. Itu bagian dari proses hidup. Bukankah setiap orang akan melakukan hal-hal bodoh dalam hidupnya. Saya belum bisa menjelaskan banyak hal karena bagi saya saat ini dengan level om-om bisa mengingat password login blog ini adalah hal menyenangkan. Semudah itu.
Sampai ketikan ini selesai bahkan saya tidak mengerti apa yang saya pikirkan. :)) Dangkal

Entah

image

Kamu tau tentang perihal patah hati.

Disaat kamu terpuruk dan merasa sia-sia atas apa yg telah kamu perjuangkan. Di sisi lain ada yang sedang berjuang mendapatkan tempat itu, bukan untuk mengganti, tapi meyakinkan bahwa kamu layak diperjuangkan.

Deja Vu Berjamaah

Aku menulis karena tidak pandai mengingat
Tapi kali ini tulisan dibuat justru untuk mengingat. Apasih.

Saya ajak kalian ke moment yang khas banget tiap masuk bulan puasa, apalagi bentar lagi yekan.

image

Gimana ? Udah broadcast massal ” minal aidin ” yg sebenernya terselubung kalimat ” aku kangen kamu ” belum ? kayak yg dulu pernah saya bahas  disini. Setahun yang lalu. Udah lama juga ya gaes. 😆

Okay ehm, saya ngga akan bahas itu lagi. Basi.

So, karena kali ini edisi syariah, sebisa mungkin mengurangi penggunaan kata atau kalimat-kalimat terlarang. Jadi tolong support, minimal biar saya bisa menunjukan bahwa laki-laki ini jauh di dalam hatinya penuh kebaikan.

Tepok tangannya, boleh.

Jadi gini,

Ada banyak banget moment di bulan puasa yang patut kita nikmati, karena hampir semuanya bisa terulang lagi. Mirip deja vu gitu, tapi berjamaah.

A. Minuman Ajaib.
Kalau tanda mau kiamat kan ada bunyi terompet sangkakala tuh, trus kalo tanda mau putus biasanya jarang hubungin tiba-tiba lost contact gitu yekan. Nah, kalo mau bulan puasa itu tandanya bakal sering banget iklan apa hayo ? Obat Maag udah ngga lucu lagi, FYI aja sih.

Syrup, bro syrup.
Apa cuma perasaan saya saja kalau iklan syrup lebih menggairahkan dari bulan yang lain? seger banget apalagi kalau sampai tenggorokan.

Kenapa jadi ajaib? karena saya kesel. Seumur-umur bikin syrup nih ya kalau ngga kemanisan ya berasa air putih diwarnain. Coba liat iklan, pas tuang di gelas sudah ada melon, strawberries, macam buah-buahan gitu lah. Trus kayaknya kesan kekeluargaannya kental banget, saya di rumah malah berantem dulu, ngga bisa liat gelas gedean dikit.

B. Oh Ubin Mesjid.
Awalnya sederhana,
Rebahan bentar aaaaah~
Ngelurusin kaki aaaahh~
Ngitungin ubin aaahhh~
Akhirnya, ya merem juga.

 

 

 

Bangun pagi buta,

Lanjut kerja,
Ngga makan,
Badan lemes,
Tulang serasa kayak bandeng presto, empuk. Bawaannya senderan terus.

 

Mata kaki aja istirahat masa mata kepala melek juga, ngga adil itu namanya. Akhirnya, ya merem juga.
Bener sih tidur itu ibadah, daripada nongkrong ngomongin orang, suit-suit-kyu-kyu perempuan lewat, apalagi sebatang dulu nunggu bedug.

Tapiiiiiii.
Itu kan tempat ibadah, buat tiduran gitu ? Emang udah keabisan kamar kostan ? Eh jangan deng. Yakin ngga ileran ? Ya yang saya pernah tamasya ke tempat ibadah agama atau kepercayaan lain nih. Hebatnya ngga ada tuh, ada yg kalo mau kesana mesti wangi, atau malah sendal rapi barisnya kayak anak paskriba. Untung saya masih inget sampe sekarang kalo tidur di Mesjid bakal dipindahin jin ke dalem bedug. Ah apalah saya yang jarang ibadah, kalau kelihatan.

C. Dunia Milik Tuhan Sisanya Pada Ngekost
Saya yakin terserah miskin apa kaya, cakep apa jelek, normal apa sekong pada akhirnya punya pemikiran yang sama. Yak, nyetok mie instant. Artinya, bukan anak kostan doang yang berhadapan dengan barang terlarang itu. Yang kalau biasanya taklimat ‘bumbu tajem, bikin kanker, usus rusak’ jadi pop culture.

D. Aku Pulang.
Moment ketemu keluarga memang take terkalahkan. Ya kecuali buat orang-orang demen galau,

” waktu untuk kamu segalanya melebih diri dan keluarga ku ”

Sama keluarga ndak perduli apalagi sama kalian yg jelas jelas orang lain. Bahaya cuy.
Wajar banget banyak orang pulang ke daerahnya masing-masing, dasarnya kangen, abis THR, libur panjang, mau ngapain lagi kalo ngga pulang? Inget sama pepatah, lebih baik foya-foya di kampung sendiri daripada di negeri orang. Eh, gitu ngga sih.
Saran sih ya, yang mudik usahain jangan bawa motor, ngeri di jalan, bawa anak kecil pula terus ada bagasi tambahan. Ya apapun niatnya pakai motor biar irit atau bisa nunjukin materi yang kalian punya, coba jangan egois, kasian kan anak kecil. Ditambah lagi, saya susah pulaaaaang ah elah.

image

Picture by MBDC

Jalur Kalimalang tiap hari macetnya Ya Allah banget eh dihajar arus mudik. Kerjaan di Tangerang rumah Bekasi lewat tuh jalur???? Lah curhat.

Bercanda kok, yg penting hati-hati sih.
Intinya. Bebas deh mau naik apa yg penting hati-hati yah, yang naik angkutan umum  jangan salah juga bahaya lho. Biasa, modus operandi ngasih makanan, ngga jauh sama jeruk atau aqua gelas. Kalo yg ketemu begituan jangan ditolak, terima. Tapi mentahnya aja, kan mayan kalau tiap terminal ketemu yg model begituan itung itung peluang bisnis nambah rezeki. Alhamdulillah.

E. Dress code
Baju baru adalah hak-hak dan keadilan manusia yang ngga bisa dihilangkan dalam tradisi lebaran, bebaslah ya orang punya duit. Mulai dari model couple-an sampe batik everywhere. Kan ketemu orang banyak, biasanya nih ya ada aja yang nongol cakep auk darimana ternyata tetangga sendiri tapi udah keburu digebet temen atau ada yang kosong sih eh ternyata masih sodaraan. Tenang, ga rugi kok. Yang penting masih keliatan indah di mata Allah. Subhanallah
*lipet sajadah*
Minimal begini deh

image

Dari sekian keindahan itu bakal ada manusia jenis minta di-blender kepalanya yang mulai dari sholat Ied aja udah pake jersey team bola paporit. Orang model gini nih yang bikin Tuhan kesel, ntar juga hidupnya dioper-oper, paling mentok buat ngisi bangku cadangan. Amin

Ya gitu deh rentetannya, masih banyak sih cuma gue keburu pegel.

Udahan ya.
Ciao

Sebentar Saja

Mari kita duduk dan bicara sedikit tentang yang katanya mampu mengucapkan kata tak terucap.
Iya, dinding

Jika jarak dan waktu dituduh tersangka utama perpisahan lalu, apa kabar dengan dinding

Bukankah tembok Berlin dihancurkan untuk menyatukan apa yang telah lama berpisah lewat jarak dan waktu,?

Apa justru itu berlaku untuk dinding hatimu misalnya ?

Oh, aku hampir lupa di dinding hati telah tergantung harapan, kenangan, dan semua tentang apa yang akan dibangun meski mungkin saja dihancurkan

…………….syit. Maaf ini cuma gegara laper doang kok, beneran 😦

Jodoh Pasti Bertemu (?) 21+

Ndak tahu kenapa saya harus cantumkan label 21+ di tiap konten yang dianggap sensitive. Entah kalimat yg agak bergeser dengan norma-norma ketimuran ( baca : ke Arab-araban melebihi orang Arab itu sendiri ) atau gambar yang bikin perih di mata. 🙂
Saya cuma notice buat sebagian orang yg mungkin merasa terganggu dengan apa yg saya pikirkan, baru dipikirkan lho itu :p

Masih ingat dengan rumusan :

Lo bebas berbuat apa aja, tapi. Orang lain juga bebas menilai apapun.
Your welcome :p

Alkisah, sebuah pertanyaan muncul dari sebuah obrolan awkward harian lewat chat dengan pasangan saya.

” kalau jodoh di tangan Tuhan terus kenapa ada orang yg cerai ya ”

Pingin ta’ cium keningnya terus kelonin. Eh
Itu udah diatur sama Tuhan, manusia tinggal jalanin

 

Template jawaban diatas adalah contoh yang umum, iya umum. Dengan serta merta kegagalan adalah suatu produk Tuhan. Padahal kita semua paham, tempat segala kebaikan ada pada-Nya, dan letak kesalahan ada pada manusia. Terus kenapa masih bawa nama Tuhan? Klasik, khilaf.

Gini, manusia dikasih kehendak-bebas. Kita dikasih nyawa dan hidup menjadi manusia, mau ngapain dan bagaimana ya bebas. Tapi inget, ada tempat ya bernama neraka dan surga sebagai rumah tinggal. Diperhalus lagi? Bebas boleh tapi jangan keblinger.

Jodoh pasti bertemu?

Ketemu jodoh dimana emangnya ?

 

Ciao